Kamis, 28 Juni 2012

Hayalan Sang Pecandu


HAYALAN SANG PECANDU

Pemain                        : Sang pecandu
                          Anak kecil
                          Pemungut sampah
                          Orang gila
                          Lelaki kaya
                          Ibu


Lampu hijau menyala ke arah jala yang tergantung lebar...
Terdengar suara keributan dari segi penjuru, suara kegiatan sehari-hari. Aktipitas terus berjalan beriring halnya sang waktu.suara burung,suara palu yang di pukul para buruh rumah.suara piring pecah oleh keributan dari tetangga di seitar. Semua penuh masalah semua penuh aktipitas. Namun semua sudah terbiasa dan jadi santapan hari-hari oleh telinga.....


-          sang anak membawa mainan mobil2’n yang di ikat dengan seuntai  tali  seolah-olah hidup tanpa beban dan masalah. Dia menyanyikan lagu  padamu Nengri dengan sangat lantang, namun dalam pikirnya iya juga ragu akan kata-kata dan makna dari lagu itu, dalam benaknya apakah iya bisa menjalankan antau melakukan layangnya yang tercantum pada lagu itu.
( apa aku bisa mengabdi pada negri ini? apa aku bisa menepati janjiku seperti halnya dalam lagu itu? Dan sekarang banyak janji2 yang aku dengar namun tak pernah di tepati. Banyak yang katanya mengabdi namun masih memikirkan hasil dari pengabdiannya... memang semua butuh duit memang semua materi.... ahhhhhh.......... itu yang membuat aku bingung aku harus ikut siapa? Ikut lagu ataukah ikut para pengingkar2 itu?

Terdengar suara gemuruh angin yang sangat kecang tercium bau yang amat tidak sedap bau bangkai bau sampah.... (lampu merah menyala mengarah pada sesosok lelaki tua yang lagi memungut samapah)

-          menguras keringat dan terus memungut sampah...
kapan aku bisa kaya kalau pekerjaan ku terus memungut sampah seperti ini.?
kapan aku bisa memberi makan enak anank-anak ku..?
kapan aku bisa membelikan baju yang bagus untuk keluargaku?
Jangan kan membeli baju, mungkin memebeli kain kapan buat aku mati sendiri aku tidak bisa... ha ha he’’
Makanya aku tidak ingin mati cepat2... kecuali aku mendapatkan kirim’n buku atau paket’n buku yang ada bom nya di pembuangan sampah ini... ha ha ha...
Hahhh.... itu ada buku..! (mengambil dengan hati2 dan teliti)
(sambil membaca) = mahalnya sekolah saat ini,
Hahhh.... bosan aku, itu sudah menjadi cerita lama. (sambil membuang kuku itu)



Lampu putih menyala lagi mengarah ke arah sosok lelaki yang oarak2’n..
           
            ­- Ha ha ha....
Andai aku jadi Gayus tambunan yang bisa jadi kebali...
Alahhh...... oarang gila sperti aku ini mana mungkin bisa pergi ke bali.
Kecuali aku menghanyutkan diriku di sungai ini siapa tau aku hanyut sampai ke bali.. ha ha ah ha ha... (sambil mengorek idung dan menjilat upil yang ada di jari telunjuknya) ehhh..... rasanya asin... apakah idungku penghasil garam? Ha ha...
Kalau hidungku penghasil garam aku ingin mengahasilkan garam yang sebanyak2 nya... biar aku jual mahal layaknya minyak2 sekarang... ha ha ha ha... ohhh  Tidak bisa....


Lampu hijau menyala mengarah ke arah sosok laki-laki berjas dengan rapi sambil mengipas-ngipaskan uang yang sangat banyak.
        
-          apa lagi? Apa lagi? Apa lagi yang kurang dari aku kawan?
Uang? Aku punya, mobil? Aku juga pnya? Sedangkan rumahku, jangankan untuk tidur main bola aja di dalam nya kau bisa kawan...
Aku tak perlu memikirkan makan buat esok, buat makan tahun depan pun aku sudah terjamin, semua karena uang,semua karena uang.. ha ha ha.... uang.. ha ha ha....ya ini uang.... karena nya aku hidup... ha ha ha....
Aku dengan bersusah payah mencarinya.. dengan berbagai macam carapun aku lakukan. Cara yang menghalalkan segala cara. Cara yang dengan caraku sendiri meskipun harus merugikan orang lain aku takperduli.. yang penting aku senang yang penting aku bisa mengumpulkan uang sebanyak2 nya.... ha ha ha ha........

(tiba2 hening,lelaki itu memandang pada sebual fhoto usang yang hampir termakan oleh waktu,penuh dengan debu, kemudian di usapnya debu itu,ditiupnya biar bersih, di terdiam dan suasana kembali hening.... bunyil lonceng jam berbunyi, 12x. Menunjukkan bahwa jam sudah pukul 12 malam.)

Aku baru sadar, ternyata ini yang membuat ku selalu merasa kurang dengan kebahagianan hartaku....


Lampu langsung padam, dan terdengar suara angin yang keras, suara gelas jatuh,suara air yang tertumpah dari sbuah botol, suara jantung lebih berdetak,lebih keras daripada yang biasanya.
(lampu merah,hijau,kuning bernyala bergantian. Dan pada akhirnya semua terang., dan terlihat sesosok wanita tua menggendung seorang bayi dan menyanyikan lagu untuk sang anak nya.)





-          anak ku meski kau dilahirkan tanpa kemewahan namun kau dilahirkan untuk kemewahan, namun bukan berarti kau harus lupa dengan tampat kelahiran mu... tempat yang dimana tidak ada sebuah kemewahan namun yang ada hanya ketenangan dan kedamaian, tidak ada perang,tidak ada demonstran, tidak ada pembunuhhan, kebenaran tidak akan pernah terwujud kalau tidak kita rebut anak ku.anak ku sayang  apa bila kakimu telah melangkah di tengah padang tancapakan kakimu dalam-dalam dan tetaplah terus bergumam! Sebab gumam adalah mantara dari dewa-dewa...

emmmmmmm..........................emmmmmmmm..........emmmmmmmm...

(keluar sang laki-laki dari dalam jala itu. Dan iya terusm menggumam.)


Emm......emmmmmmmm..... emmm......

-          ibu,ibu,ibu aku sekarang telah berjalan di tengah padang yang luas. Saking       luas nya aku tak mampu untuk menancapakan kaki ku dalam-dalam ibu.
Dan apa lagi yang harus aku lakukan.? Mana dewa-dewa seperti yang kau bilang ibu?
Tidak ada yang sesempurna kau ibu....
Tidak ada yang seharum kau ibu...
Tidak ada yang sesejuk kau...
Dan tidak ada yang sehangat kau jikala aku sedang kedinginan ibuuu....
(sambil menagis.)
Sekarang aku takmampu berjalan di padang itu ibu.
Bantu aku untuk pulang
Bantu aku untuk kembali.
Aku terjebak di padang yang tandus ini...
Tolong aku ibu....... (sambil berteriak)


           
           
                       
           
TAMAT

                                               






Hayalan sang pecandu

Naskah karya yang ke-3 setelah “MENUNGGU PELANGI’’ dan ‘’SAKIT’.
Naskah ini terinspirasi dari berbagai macam penomena yang sering kita dapat dan kita temui, yang di ciptakan oleh Kholik Setiawan (Alex). Yang di kembangkan lagi oleh Wahyudi (Anank wh.)
Yang di mana dengan adanya naskah ini diharapkan dunia perteateran dapat maju dan lebih berkembang, dan sebagai mana memperingati hari TEATER SEDUNIA maka di buatlah naskah ini.
Eratkan tangan dan berpegangan lah karena suatu pegangan yang erat adalah benteng yang kuat dalam kebersamaan.

UNISKA 27 maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar