HAYALAN SANG PECANDU
Pemain : Sang
pecandu
Anak kecil
Pemungut sampah
Orang gila
Lelaki kaya
Ibu
Lampu hijau menyala ke arah jala yang tergantung lebar...
Terdengar suara keributan dari segi penjuru, suara kegiatan sehari-hari.
Aktipitas terus berjalan beriring halnya sang waktu.suara burung,suara palu
yang di pukul para buruh rumah.suara piring pecah oleh keributan dari tetangga
di seitar. Semua penuh masalah semua penuh aktipitas. Namun semua sudah
terbiasa dan jadi santapan hari-hari oleh telinga.....
-
sang
anak membawa mainan mobil2’n yang di ikat dengan seuntai tali
seolah-olah hidup tanpa beban dan masalah. Dia menyanyikan lagu padamu Nengri dengan sangat lantang, namun
dalam pikirnya iya juga ragu akan kata-kata dan makna dari lagu itu, dalam
benaknya apakah iya bisa menjalankan antau melakukan layangnya yang tercantum
pada lagu itu.
( apa aku bisa mengabdi pada negri ini? apa aku bisa
menepati janjiku seperti halnya dalam lagu itu? Dan sekarang banyak janji2 yang
aku dengar namun tak pernah di tepati. Banyak yang katanya mengabdi namun masih
memikirkan hasil dari pengabdiannya... memang semua butuh duit memang semua
materi.... ahhhhhh.......... itu yang membuat aku bingung aku harus ikut siapa?
Ikut lagu ataukah ikut para pengingkar2 itu?
Terdengar suara gemuruh angin yang sangat kecang tercium bau yang amat
tidak sedap bau bangkai bau sampah.... (lampu merah menyala mengarah pada
sesosok lelaki tua yang lagi memungut samapah)
-
menguras
keringat dan terus memungut sampah...
kapan aku bisa kaya kalau pekerjaan ku terus
memungut sampah seperti ini.?
kapan aku bisa memberi makan enak anank-anak ku..?
kapan aku bisa membelikan baju yang bagus untuk
keluargaku?
Jangan kan membeli baju, mungkin memebeli kain
kapan buat aku mati sendiri aku tidak bisa... ha ha he’’
Makanya aku tidak ingin mati cepat2... kecuali aku
mendapatkan kirim’n buku atau paket’n buku yang ada bom nya di pembuangan
sampah ini... ha ha ha...
Hahhh.... itu ada buku..! (mengambil dengan hati2
dan teliti)
(sambil membaca) = mahalnya sekolah saat ini,
Hahhh.... bosan aku, itu sudah menjadi cerita
lama. (sambil membuang kuku itu)

Lampu putih menyala lagi mengarah ke arah sosok lelaki yang oarak2’n..
- Ha ha ha....
Andai aku jadi Gayus tambunan yang bisa jadi kebali...
Alahhh...... oarang gila sperti aku ini mana mungkin bisa pergi ke bali.
Kecuali aku menghanyutkan diriku di sungai ini siapa tau aku hanyut sampai
ke bali.. ha ha ah ha ha... (sambil mengorek idung dan menjilat upil yang ada
di jari telunjuknya) ehhh..... rasanya asin... apakah idungku penghasil garam?
Ha ha...
Kalau hidungku penghasil garam aku ingin
mengahasilkan garam yang sebanyak2 nya... biar aku jual mahal layaknya minyak2
sekarang... ha ha ha ha... ohhh Tidak
bisa....
Lampu hijau menyala mengarah ke arah sosok
laki-laki berjas dengan rapi sambil mengipas-ngipaskan uang yang sangat banyak.
-
apa
lagi? Apa lagi? Apa lagi yang kurang dari aku kawan?
Uang? Aku punya, mobil? Aku juga pnya? Sedangkan
rumahku, jangankan untuk tidur main bola aja di dalam nya kau bisa kawan...
Aku tak perlu memikirkan makan buat esok, buat
makan tahun depan pun aku sudah terjamin, semua karena uang,semua karena uang..
ha ha ha.... uang.. ha ha ha....ya ini uang.... karena nya aku hidup... ha ha
ha....
Aku dengan bersusah payah mencarinya.. dengan
berbagai macam carapun aku lakukan. Cara yang menghalalkan segala cara. Cara
yang dengan caraku sendiri meskipun harus merugikan orang lain aku takperduli..
yang penting aku senang yang penting aku bisa mengumpulkan uang sebanyak2
nya.... ha ha ha ha........
(tiba2 hening,lelaki itu memandang pada sebual
fhoto usang yang hampir termakan oleh waktu,penuh dengan debu, kemudian di
usapnya debu itu,ditiupnya biar bersih, di terdiam dan suasana kembali
hening.... bunyil lonceng jam berbunyi, 12x. Menunjukkan bahwa jam sudah pukul
12 malam.)
Aku baru sadar, ternyata ini yang membuat ku
selalu merasa kurang dengan kebahagianan hartaku....
Lampu langsung padam, dan terdengar suara angin yang keras, suara gelas
jatuh,suara air yang tertumpah dari sbuah botol, suara jantung lebih
berdetak,lebih keras daripada yang biasanya.
(lampu merah,hijau,kuning bernyala bergantian. Dan pada akhirnya semua
terang., dan terlihat sesosok wanita tua menggendung seorang bayi dan
menyanyikan lagu untuk sang anak nya.)

-
anak
ku meski kau dilahirkan tanpa kemewahan namun kau dilahirkan untuk kemewahan,
namun bukan berarti kau harus lupa dengan tampat kelahiran mu... tempat yang
dimana tidak ada sebuah kemewahan namun yang ada hanya ketenangan dan
kedamaian, tidak ada perang,tidak ada demonstran, tidak ada pembunuhhan,
kebenaran tidak akan pernah terwujud kalau tidak kita rebut anak ku.anak ku sayang apa bila kakimu telah melangkah di tengah
padang tancapakan kakimu dalam-dalam dan tetaplah terus bergumam! Sebab gumam
adalah mantara dari dewa-dewa...
emmmmmmm..........................emmmmmmmm..........emmmmmmmm...
(keluar sang laki-laki dari dalam jala itu. Dan
iya terusm menggumam.)
Emm......emmmmmmmm..... emmm......
-
ibu,ibu,ibu
aku sekarang telah berjalan di tengah padang yang luas. Saking luas nya aku tak mampu untuk
menancapakan kaki ku dalam-dalam ibu.
Dan apa lagi yang harus aku lakukan.? Mana
dewa-dewa seperti yang kau bilang ibu?
Tidak ada yang sesempurna kau ibu....
Tidak ada yang seharum kau ibu...
Tidak ada yang sesejuk kau...
Dan tidak ada yang sehangat kau jikala aku sedang
kedinginan ibuuu....
(sambil menagis.)
Sekarang aku takmampu berjalan di padang itu ibu.
Bantu aku untuk pulang
Bantu aku untuk kembali.
Aku terjebak di padang yang tandus ini...
Tolong aku ibu....... (sambil berteriak)
TAMAT
Hayalan sang pecandu
Naskah karya yang ke-3 setelah “MENUNGGU PELANGI’’ dan ‘’SAKIT’.
Naskah ini terinspirasi dari berbagai macam penomena yang sering kita dapat
dan kita temui, yang di ciptakan oleh Kholik Setiawan (Alex). Yang di
kembangkan lagi oleh Wahyudi (Anank wh.)
Yang di mana dengan adanya naskah ini diharapkan dunia perteateran dapat
maju dan lebih berkembang, dan sebagai mana memperingati hari TEATER SEDUNIA
maka di buatlah naskah ini.
Eratkan tangan dan berpegangan lah karena suatu pegangan yang erat adalah
benteng yang kuat dalam kebersamaan.
UNISKA 27 maret 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar